Keningnya dikecup. "Saya berangkat. Mau bertugas".
Tangannya dicium. "Saya berangkat. Mau berjuang".
Doanya merayap, mendesak air matanya tumpah. Begitu sesak.
Ia takut selongsong peluru dari khilaf suaminya akan merobek kepala anaknya.
Atau justru amuk gerombolan anaknya akan menyasar bagian suaminya yang tak dilindungi rompi anti peluru.
Telinganya jenuh mendengar panji "demi rakyat".
Tiap hari, berulang kali mengkhawatirkannya.
Siapa yang lebih tabah dari ini?
Perempuan yang tiap detik berjudi.
Mengira-ngira, menerka, menebak dengan jawaban yang sama sakitnya.
Tentang jasad yang akan lebih dulu mengetuk pintu rumahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar