Keningnya dikecup. "Saya berangkat. Mau bertugas".
Tangannya dicium. "Saya berangkat. Mau berjuang".
Doanya merayap, mendesak air matanya tumpah. Begitu sesak.
Ia takut selongsong peluru dari khilaf suaminya akan merobek kepala anaknya.
Atau justru amuk gerombolan anaknya akan menyasar bagian suaminya yang tak dilindungi rompi anti peluru.
Telinganya jenuh mendengar panji "demi rakyat".
Tiap hari, berulang kali mengkhawatirkannya.
Siapa yang lebih tabah dari ini?
Perempuan yang tiap detik berjudi.
Mengira-ngira, menerka, menebak dengan jawaban yang sama sakitnya.
Tentang jasad yang akan lebih dulu mengetuk pintu rumahnya.
Sabtu, 28 September 2019
Jumat, 27 September 2019
Semata Wayang
Menuju sang Maha Pengasih
Kau kembali
Demi Negeri
Demi nelayan dan petani
Demi kami, demi reformasi yang habis dikorupsi
Aspirasi dan nyali yang harus dibayar mati
Bersama peluru yang ditanam polisi, tidak bisa tidak, jiwamu akan tumbuh membumi
Akan abadi
Randi, kau adalah tragedi.
Kau kembali
Demi Negeri
Demi nelayan dan petani
Demi kami, demi reformasi yang habis dikorupsi
Aspirasi dan nyali yang harus dibayar mati
Bersama peluru yang ditanam polisi, tidak bisa tidak, jiwamu akan tumbuh membumi
Akan abadi
Randi, kau adalah tragedi.
Sabtu, 07 September 2019
Belajar Mengakhiri "Pesta"
Burung gereja masih bermain, ada yang baru belajar terbang. Anak-anak di gang keluyuran dengan gula-gula kaki ditangannya, ada yang bermain sepak bola di tanah lapang, tanpa sepatu, sandal jepit disulap menjadi gawang. Para remaja bermain playstation, mencari kesibukan, berusaha mengalihkan perhatian jiwanya. Ritual menahan lapar, haus, dan hawa nafsu sudah berlangsung berabad-abad. Sebulan penuh dari 12 bulan yang disediakan kalender masehi. Dalam hijriah selalu tepat pada ramadhan. Ritual semacam itu biasanya ditutup dengan pesta berbelanja. Pemerintah ikut mendukung, memberi bonus tambahan gaji, perusahaan swasta diberi instruksi untuk melakukan hal serupa. Beberapa memilih mendapat THR dengan perbuatan kriminal, korbannya tentu pemilik THR yang legal. Begal, mencuri, merampok, menipu, ada yang sampai membunuh. Ya, demi melibatkan diri dalam perayaan "pesta".
Ritual terus berlangsung, ustad kebanjiran job, ceramah tiap ramadhan disebar diberbagai mimbar, tanpa banyak revisi. "jama'ah yang insya Allah di rahmati oleh Allah SWT, jadi kita berpuasa demi merasakan bagaimana susahnya menjadi orang miskin". Ibu tua pemulung sampah lalu mengelus kepala anak perempuannya yang ikut ke masjid bertaraweh, sembari membesarkan hati anaknya, iya berusaha meyakinkan anaknya bahwa manusia yang ada di sekelilingnya sedang bersolidaritas merasakan kemiskinan yang nyaris setiap waktu duduk di pundaknya. Anak perempuan yang putus sekolah itu sebenarnya ragu, kalau ritual semacam itu dilaksanakan demi merasakan kemiskinan yang ia derita, lalu buat apa mereka ikut melaksanakan ritual? Mengapa pada saat bersamaan dia tidak diajak bersolidaritas merasakan hidup yang serba berkecukupan? Sebulan saja.
"Ma, apa orang-orang kaya itu juga makan nasi yang dicampur air garam pada saat berbuka? Memasak mi instan saat sahur, dan membiarkan bayi kecilnya tetap merengek saat susu formulanya habis?" dia berbisik, pada dirinya sendiri. Untung saja anak perempuan itu tak punya gadget canggih. Kau bisa membayangkan perasaannya saat melihat media sosial menggambarkan bagaimana buasnya orang-orang yang mengaku sedang menahan nafsu, saling pamer hidangan berbuka. Demi eksistensi, demi stratifikasi sosial, tak ada cela di atas meja makan yang terbuat dari kayu jepara, 4 sehat 5 sempurna.
Bulan ramadhan kerap kali kehilangan daya revolusionernya, berubah menjadi bulan konsumtif. Ada yang sampai enggan hadir ke lapangan, melaksanakan shalat idul fitri hanya karena malu menggunakan kembali pakaian yang ia beli di ramadhan lalu. Ada yang malah menolak berpuasa karena merasa jika sekedar menahan lapar dan haus, setiap hari, sepanjang tahun ia sudah rasakan. Bulan ramadhan harusnya menjadi ajang belajar menghargai waktu, bersilaturahmi, belajar hidup sederhana, belajar untuk saling mengasihi, belajar hidup rukun dengan semangat toleransi. Lebih jauh, bulan ramadhan harusnya menjadi bulan untuk melatih diri membunuh budaya buruk konsumerisme, dan tempat ujian puasa sesungguhnya berada pada sebelas bulan berikutnya.
17 mei 2019
Ach. Faras Bukhari
Ritual terus berlangsung, ustad kebanjiran job, ceramah tiap ramadhan disebar diberbagai mimbar, tanpa banyak revisi. "jama'ah yang insya Allah di rahmati oleh Allah SWT, jadi kita berpuasa demi merasakan bagaimana susahnya menjadi orang miskin". Ibu tua pemulung sampah lalu mengelus kepala anak perempuannya yang ikut ke masjid bertaraweh, sembari membesarkan hati anaknya, iya berusaha meyakinkan anaknya bahwa manusia yang ada di sekelilingnya sedang bersolidaritas merasakan kemiskinan yang nyaris setiap waktu duduk di pundaknya. Anak perempuan yang putus sekolah itu sebenarnya ragu, kalau ritual semacam itu dilaksanakan demi merasakan kemiskinan yang ia derita, lalu buat apa mereka ikut melaksanakan ritual? Mengapa pada saat bersamaan dia tidak diajak bersolidaritas merasakan hidup yang serba berkecukupan? Sebulan saja.
"Ma, apa orang-orang kaya itu juga makan nasi yang dicampur air garam pada saat berbuka? Memasak mi instan saat sahur, dan membiarkan bayi kecilnya tetap merengek saat susu formulanya habis?" dia berbisik, pada dirinya sendiri. Untung saja anak perempuan itu tak punya gadget canggih. Kau bisa membayangkan perasaannya saat melihat media sosial menggambarkan bagaimana buasnya orang-orang yang mengaku sedang menahan nafsu, saling pamer hidangan berbuka. Demi eksistensi, demi stratifikasi sosial, tak ada cela di atas meja makan yang terbuat dari kayu jepara, 4 sehat 5 sempurna.
Bulan ramadhan kerap kali kehilangan daya revolusionernya, berubah menjadi bulan konsumtif. Ada yang sampai enggan hadir ke lapangan, melaksanakan shalat idul fitri hanya karena malu menggunakan kembali pakaian yang ia beli di ramadhan lalu. Ada yang malah menolak berpuasa karena merasa jika sekedar menahan lapar dan haus, setiap hari, sepanjang tahun ia sudah rasakan. Bulan ramadhan harusnya menjadi ajang belajar menghargai waktu, bersilaturahmi, belajar hidup sederhana, belajar untuk saling mengasihi, belajar hidup rukun dengan semangat toleransi. Lebih jauh, bulan ramadhan harusnya menjadi bulan untuk melatih diri membunuh budaya buruk konsumerisme, dan tempat ujian puasa sesungguhnya berada pada sebelas bulan berikutnya.
17 mei 2019
Ach. Faras Bukhari
Abdul
Terhitung sudah 4 tahun Abdul tak pulang kekampung. Kerinduan pada ibunya kadang dilampiaskan lewat telepon genggamnya. Ia tak tahu berapa kerutan sudah ia biarkan tumbuh di wajah ibunya tanpa pernah ia saksikan langsung. Hatinya sungguh ingin pulang, tapi ia punya tanggung jawab berat menyelesaikan tugas yang menumpuk dari dosennya dikampus. Uang yang dikirimkan dari kampung hanya cukup buat makan ditambah tabungan hasil kerja sambilan yang ia kumpulkan dalam celengan ayam plastik juga tidak cukup membeli tiket pulang. Ia harus menyebrang pulau, ia tak mungkin membebankan itu pada ibunya yang sudah rela mengurangi porsi makan demi tanggungan kuliahnya, ayahnya sudah lama meninggal, waktu itu Abdul masih sedang belajar mengucapkan kata ayah. Dalam setiap harapan kesuksesan anaknya, ibunya menyimpan berjuta rindu untuk memeluknya.
Ibunya menaruh harapan besar pada instansi pendidikan. Ia ingin anaknya belajar bersungguh-sungguh, mendapat pekerjaan layak, pulang, kemudian merubah nasib keluarga dan berguna untuk masyarakat. Kebun peninggalan kakek yang juga tak seberapa luasnya rela dijual. Demi sekolah Abdul. Sedang Abdul penuh dilema, ia sadar bahwa ibunya telah salah menaruh harapan itu pada kampus. Di kelas ia merasa tak ada proses belajar, ia merasa hanya menjadi wadah tempat segala omong kosong ditampung. Kepalanya dipenuhi segala pertanyaan, dan ruang kelas tak mampu menjawab itu semua. Ia tak mungkin menjelaskan itu pada ibunya, ia tak ingin membiarkan kesedihan menyelimuti tubuh ibunya saat terlelap. Itu pula yang membuat Abdul malu untuk pulang. Kuliahnya sebenarnya baik-baik saja, ia tak mengulang satupun mata kuliah, dan itu didapatkan dari hasil "diamnya" didalam kelas. Tapi Abdul merasa harus mendapatkan sesuatu disini, dan selembar kertas ijazah menurutnya tidak sebanding dari apa yang telah dikorbankan ibunya yang hanya bekerja sebagai pemetik coklat di kebun milik tetangga.
Abdul adalah seorang pemuda yang haus ilmu, ia gemar membaca. Apa saja, filsafat, teologi, sains juga sastra, ia juga pecandu diskusi. Sebab buku dan kawan diskusinya pulalah, ia merasa punya beban ilmu pengetahuan. Dan itu terlalu visioner untuk dipahami ibunya dikampung yang sekolah dasar saja tidak tamat. Sungguh ia kadang menyesali telah bertemu buku dan beberapa kawan diskusinya. Abdul sangat ingin membanggakan orang tuanya, tapi selain piala, jabatan bergengsi dan uang yang banyak, orang tuanya sulit menerima itu sebagai tolok ukur kesuksesan. Orang tuanya tak pernah mengenal Tan Malaka, membaca biografi Bob Marley dan Mahatma Ghandi, atau lebih jauh berkenalan dengan kehidupan baginda besar Rasulullah SAW, yang hidup menginspirasi dunia dan mempengaruhi banyak tokoh besar, meski tak bergelimang harta.
Abdul ingin hidup merdeka, menjalani setiap detik dalam hidupnya atas pilihannya sendiri. Tapi ibunya juga harus dibahagiakan, dengan segala pengharapannya. Pikiran itu berkecamuk dikepalanya, sepanjang malam, setiap hari. Sebentar lagi Abdul menyelesaikan kuliahnya, berita itu telah sampai ke telinga ibunya, sayang, berita itu dibalas dengan kabar duka bahwa ibunya sedang sakit keras. Tepat di hari wisudahnya, petir seolah menyambar ubun-ubunnya, ya, ibunya meninggal dunia. Hari itu Abdul benar-benar hancur, ia seperti tak punya persendian lagi, ia benar-benar marah pada dirinya, bahkan pada Tuhannya. Ia melepaskan juba dan toga wisudahnya, air matanya tumpah ditengah pelukan orang tua wisudawan lain yang mengelilinginya.
Ia bergegas mencari pinjaman untuk melihat keriput di wajah ibunya yang terakhir kali. "ibu aku sudah wisudah" dalam hatinya sambil memeluk jenazah ibunya yang sudah kaku. Ia yakin ibunya masih mendengarkan. Tatkala jenazah itu dikebumikan, dihadapan nisan kedua orang tuanya yang bersebelahan, Abdul bersumpah akan menjadikan hari wafat kedua orang tuanya dikenang dunia, lewat biografi yang entah siapa yang akan menuliskannya setelah Abdul memberi sesuatu pada dunia dan menyusul kedua orang tuanya. Berjuanglah, lalu pulang kepangkuan ibumu, Abdul!
Ach. Faras Bukhari
Langganan:
Postingan (Atom)