Sabtu, 07 September 2019

Belajar Mengakhiri "Pesta"

Burung gereja masih bermain, ada yang baru belajar terbang. Anak-anak di gang keluyuran dengan gula-gula kaki ditangannya, ada yang bermain sepak bola di tanah lapang, tanpa sepatu, sandal jepit disulap menjadi gawang. Para remaja bermain playstation, mencari kesibukan, berusaha mengalihkan perhatian jiwanya. Ritual menahan lapar, haus, dan hawa nafsu sudah berlangsung berabad-abad. Sebulan penuh dari 12 bulan yang disediakan kalender masehi. Dalam hijriah selalu tepat pada ramadhan. Ritual semacam itu biasanya ditutup dengan pesta berbelanja. Pemerintah ikut mendukung, memberi bonus tambahan gaji, perusahaan swasta diberi instruksi untuk melakukan hal serupa. Beberapa memilih mendapat THR dengan perbuatan kriminal, korbannya tentu pemilik THR yang legal. Begal, mencuri, merampok, menipu, ada yang sampai membunuh. Ya, demi melibatkan diri dalam perayaan "pesta".

Ritual terus berlangsung, ustad kebanjiran job, ceramah tiap ramadhan disebar diberbagai mimbar, tanpa banyak revisi. "jama'ah yang insya Allah di rahmati oleh Allah SWT, jadi kita berpuasa demi merasakan bagaimana susahnya menjadi orang miskin". Ibu tua pemulung sampah lalu mengelus kepala anak perempuannya yang ikut ke masjid bertaraweh, sembari membesarkan hati anaknya, iya berusaha meyakinkan anaknya bahwa manusia yang ada di sekelilingnya sedang bersolidaritas merasakan kemiskinan yang nyaris setiap waktu duduk di pundaknya. Anak perempuan yang putus sekolah itu sebenarnya ragu, kalau ritual semacam itu dilaksanakan demi merasakan kemiskinan yang ia derita, lalu buat apa mereka ikut melaksanakan ritual? Mengapa pada saat bersamaan dia tidak diajak bersolidaritas merasakan hidup yang serba berkecukupan? Sebulan saja.

"Ma, apa orang-orang kaya itu juga makan nasi yang dicampur air garam pada saat berbuka? Memasak mi instan saat sahur, dan membiarkan bayi kecilnya tetap merengek saat susu formulanya habis?" dia berbisik, pada dirinya sendiri. Untung saja anak perempuan itu tak punya gadget canggih. Kau bisa membayangkan perasaannya saat melihat media sosial menggambarkan bagaimana buasnya orang-orang yang mengaku sedang menahan nafsu, saling pamer hidangan berbuka. Demi eksistensi, demi stratifikasi sosial, tak ada cela di atas meja makan yang terbuat dari kayu jepara, 4 sehat 5 sempurna.

Bulan ramadhan kerap kali kehilangan daya revolusionernya, berubah menjadi bulan  konsumtif. Ada yang sampai enggan hadir ke lapangan, melaksanakan shalat idul fitri hanya karena malu menggunakan kembali pakaian yang ia beli di ramadhan lalu. Ada yang malah menolak berpuasa karena merasa jika sekedar menahan lapar dan haus, setiap hari, sepanjang tahun ia sudah rasakan. Bulan ramadhan harusnya menjadi ajang  belajar menghargai waktu, bersilaturahmi, belajar hidup sederhana, belajar untuk saling mengasihi, belajar hidup rukun dengan semangat toleransi. Lebih jauh, bulan ramadhan harusnya menjadi bulan untuk melatih diri membunuh budaya buruk konsumerisme, dan tempat ujian puasa sesungguhnya berada pada sebelas bulan berikutnya.

17 mei 2019
Ach. Faras Bukhari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar