Berkaca di aspal bekas hujan sore hari
Burung-burung mulai bosan menari
Motor tuaku terus melaju
Membelah rupa masa lalu
Sekumpulan katak membeku
Lumpuh dihujam sore yang sendu
Tak ada sapa, sebab basa-basi tak lagi laku
Dan hidup adalah bunyi masalah yang merdu
Aku melihat manusia lalu-lalang
Tunduk pada kisah usang
Tentang uang dan dongeng kekuasaan
Tentang mitos keadilan dan tumpukan harapan
Tentang amarah, sampai kisah asmara
Tentang anggur yang nikmat dan mulut-mulut suci yang dipenuhi laknat
Tapi hendak kemana?
Setelah panji demi bangsa,
Demi negara, demi agama,
Demi ego, dan demi Tuhan beserta segala takdirnya,
Pada akhirnya setiap orang berjalan sendirian
Pun di antara sesak dan desak keramaian
Di antara persahabatan dan simbol kesetiaan pernikahan
Sekali lagi, di sela pertaruhan dan pertarungan dalam gelanggang kehidupan,
Tafsir-tafsir tentang kebahagiaan lah yang menopang tiap sendi agar bertahan
Menapak dan mewujud sebagai basa-basi dunia yang menyedihkan.