Dimana aku akan merayakan?
Apakah di kutub yang merasa kehilangan
Atau justru yang gembira melepaskan?
Bagaimana bisa aku merasa sebagai pemenang?
Sedangkan setiap hidangan ku beritakan penuh kesombongan
Setiap kebaikan ku ceritakan berlebihan
Setiap penyembahan berusaha ku pamerkan
Setiap keberhasilan orang ku jawab penuh kedengkian
Lalu apa yang hendak aku rayakan?
Sebab tak ada kemenangan,
Di balik topeng kemunafikan
Di tengah jurang ketimpangan
Di tangis tetangga yang kelaparan
Di jiwa yang penuh kerakusan
Dan tak secuilpun yang bisa kulakukan
Maaf, maaf
Bahwa itu lebih dari sekedar permohonan
Bahwa maafku ini penuh pengharapan
Semoga, semoga saja
Maafku pengakuan
Dari makhluk kecil, sarang kesalahan
Maafku ketulusan
Dari hati yang besar, rumah kebijaksanaan
Maafku keikhlasan
Dari pendosa, yang berjalan menuju kebaikan
Maafku kesadaran
Dari rasa nyaman selama hidup di kubang kehinaan
Semoga, semoga saja
Tuhan,
Sebelum kematian,
Terima kasih untuk tamparan
Di tengah euforia tahunan maaf-maafan