Jumat, 14 Agustus 2020

Luka siapa yang begitu lucu?

Seseorang telah memanen bintang

Membawanya masuk ke hutan

Membiarkan kota basah penuh genang

Lalu orang-orang dingin, penuh kenang


Peluklah sesuatu didekatmu

Guling, boneka atau gagang pintu

Rupa siapa yang mendesak sepimu?

Luka mana yang membekas begitu lucu?


Eitsssss

Tapi hidup memang soal datang dan pulang

Tak ada yang pergi

Atau tak ada yang benar-benar hilang

Ia kembali

Di tempat yang layak ia huni


Kamis, 13 Agustus 2020

Aku, Kamu Gila

 Sesekali pukul 01.23 

Di halaman rumah

Setelah memandang bulan terang

Dan melerai kucing liar yang bertengkar

Aku mengintai gerak daun mangga

Sedikit curiga pada semesta

Tentang kamu yang semakin entah

Atau aku yang semakin parah

Kenapa kekhawatiran begitu berlebihan?

Kenapa harus ada korban?

Kenapa tak ada orang gila yang menyapa

Dari depan rumah, atau di tengah jalan raya

Atau orang waras memikirkan hal sama?

Menungguku keluar lalu menyapa

Bagaimana aku mengaku gila?

Orang waras tak akan percaya 

Orang gila tak akan memperkenalkan dirinya


Euforia Tahunan

 Dimana aku akan merayakan?

Apakah di kutub yang merasa kehilangan

Atau justru yang gembira melepaskan?

Bagaimana bisa aku merasa sebagai pemenang?

Sedangkan setiap hidangan ku beritakan penuh kesombongan

Setiap kebaikan ku ceritakan berlebihan

Setiap penyembahan berusaha ku pamerkan 

Setiap keberhasilan orang ku jawab penuh kedengkian

Lalu apa yang hendak aku rayakan?

Sebab tak ada kemenangan,

Di balik topeng kemunafikan

Di tengah jurang ketimpangan

Di tangis tetangga yang kelaparan

Di jiwa yang penuh kerakusan

Dan tak secuilpun yang bisa kulakukan

Maaf, maaf

Bahwa itu lebih dari sekedar permohonan

Bahwa maafku ini penuh pengharapan

Semoga, semoga saja

Maafku pengakuan 

Dari makhluk kecil, sarang kesalahan

Maafku ketulusan

Dari hati yang besar, rumah kebijaksanaan

Maafku keikhlasan

Dari pendosa, yang berjalan menuju kebaikan

Maafku kesadaran

Dari rasa nyaman selama hidup di kubang kehinaan 

Semoga, semoga saja


Tuhan,

Sebelum kematian, 

Terima kasih untuk tamparan

Di tengah euforia tahunan maaf-maafan


Kamis, 05 Desember 2019

Renung

Berkaca di aspal bekas hujan sore hari
Burung-burung mulai bosan menari
Motor tuaku terus melaju
Membelah rupa masa lalu

Sekumpulan katak membeku
Lumpuh dihujam sore yang sendu
Tak ada sapa,  sebab basa-basi tak lagi laku
Dan hidup adalah bunyi masalah yang merdu

Aku melihat manusia lalu-lalang
Tunduk pada kisah usang
Tentang uang dan dongeng kekuasaan
Tentang mitos keadilan dan tumpukan harapan
Tentang amarah, sampai kisah asmara
Tentang anggur yang nikmat dan mulut-mulut suci yang dipenuhi laknat

Tapi hendak kemana?
Setelah panji demi bangsa,
Demi negara,  demi agama,
Demi ego, dan demi Tuhan beserta segala takdirnya,
Pada akhirnya setiap orang berjalan sendirian
Pun di antara sesak dan desak keramaian
Di antara persahabatan dan simbol kesetiaan pernikahan
Sekali lagi, di sela pertaruhan dan pertarungan dalam gelanggang kehidupan,
Tafsir-tafsir tentang kebahagiaan lah yang menopang tiap sendi agar bertahan
Menapak dan mewujud sebagai basa-basi dunia yang menyedihkan.


Jumat, 29 November 2019

Sebab Rindu

Nona apa matamu sembab?
Atau jiwamu lebam?
Babak-belur dihajar rindu
Ketar-ketir menanti waktu

Bergeraklah menjauhi cahaya
Sebab kau begitu terang
Bahkan tetap menjejak
Di antara gelap, di antara pejam

Nona apa matamu sembab?
Erat aku merangkulmu
Di tepi sedih
Berpayung kasih

Nona tanyakan pada bulan
Adakah seorang yang merindumu
Tanpa suara,  tanpa berita
Senyap di belantara gelap

Nona adakah? Selain aku?

Fiktif

Sepagi ini? 
Sedini ini? 
Belum saja kita menikmati malam-malam 
Belum lagi kalimat-kalimat menemui titiknya
Bahkan kopi masih teramat jauh diselami untuk menemui ampasnya. 
Aku kehabisan kiasan
Setelah luka, buah perpisahan
Tapi spasi selalu menyenangkan
Memisahkan dua kata agar berjumpa makna
Jangan keberatan
Saat rindu tak kunjung menemui jalan
Pun perbincangan mulai berantakan
Berserahlah pada pertemuan
Yang hidup tiap kali matamu kau pejamkan

Jumat, 22 November 2019

Tergiur

Kita tergiur
Saling tegur
"Lihat" bisikan dari timur
Merayap, tak terukur

Kau tinggal berbalik
Kembali ke bilik
Saat merasa terusik
Tempat biasa kau berbisik
Atau sekedar melirik

Aku suka matamu
Sejak kau tak lagi malu
Aku suka padamu
Tapi kita telat bertemu

Aku ingin menikmati
Setiap percakapan
Setiap basa-basi
Dan sedikit senyuman
Yang lalu-lalang
Sebab jarak tak bisa dilipat
Setelah ini kita akan kembali
Ke tatapan itu lagi
Jauh, mungkin jutaan tahun cahaya