Berkaca di aspal bekas hujan sore hari
Burung-burung mulai bosan menari
Motor tuaku terus melaju
Membelah rupa masa lalu
Sekumpulan katak membeku
Lumpuh dihujam sore yang sendu
Tak ada sapa, sebab basa-basi tak lagi laku
Dan hidup adalah bunyi masalah yang merdu
Aku melihat manusia lalu-lalang
Tunduk pada kisah usang
Tentang uang dan dongeng kekuasaan
Tentang mitos keadilan dan tumpukan harapan
Tentang amarah, sampai kisah asmara
Tentang anggur yang nikmat dan mulut-mulut suci yang dipenuhi laknat
Tapi hendak kemana?
Setelah panji demi bangsa,
Demi negara, demi agama,
Demi ego, dan demi Tuhan beserta segala takdirnya,
Pada akhirnya setiap orang berjalan sendirian
Pun di antara sesak dan desak keramaian
Di antara persahabatan dan simbol kesetiaan pernikahan
Sekali lagi, di sela pertaruhan dan pertarungan dalam gelanggang kehidupan,
Tafsir-tafsir tentang kebahagiaan lah yang menopang tiap sendi agar bertahan
Menapak dan mewujud sebagai basa-basi dunia yang menyedihkan.
Kamis, 05 Desember 2019
Jumat, 29 November 2019
Sebab Rindu
Nona apa matamu sembab?
Atau jiwamu lebam?
Babak-belur dihajar rindu
Ketar-ketir menanti waktu
Bergeraklah menjauhi cahaya
Sebab kau begitu terang
Bahkan tetap menjejak
Di antara gelap, di antara pejam
Nona apa matamu sembab?
Erat aku merangkulmu
Di tepi sedih
Berpayung kasih
Nona tanyakan pada bulan
Adakah seorang yang merindumu
Tanpa suara, tanpa berita
Senyap di belantara gelap
Nona adakah? Selain aku?
Atau jiwamu lebam?
Babak-belur dihajar rindu
Ketar-ketir menanti waktu
Bergeraklah menjauhi cahaya
Sebab kau begitu terang
Bahkan tetap menjejak
Di antara gelap, di antara pejam
Nona apa matamu sembab?
Erat aku merangkulmu
Di tepi sedih
Berpayung kasih
Nona tanyakan pada bulan
Adakah seorang yang merindumu
Tanpa suara, tanpa berita
Senyap di belantara gelap
Nona adakah? Selain aku?
Fiktif
Sepagi ini?
Sedini ini?
Belum saja kita menikmati malam-malam
Belum lagi kalimat-kalimat menemui titiknya
Bahkan kopi masih teramat jauh diselami untuk menemui ampasnya.
Aku kehabisan kiasan
Setelah luka, buah perpisahan
Tapi spasi selalu menyenangkan
Memisahkan dua kata agar berjumpa makna
Jangan keberatan
Saat rindu tak kunjung menemui jalan
Pun perbincangan mulai berantakan
Berserahlah pada pertemuan
Yang hidup tiap kali matamu kau pejamkan
Jumat, 22 November 2019
Tergiur
Kita tergiur
Saling tegur
"Lihat" bisikan dari timur
Merayap, tak terukur
Kau tinggal berbalik
Kembali ke bilik
Saat merasa terusik
Tempat biasa kau berbisik
Atau sekedar melirik
Aku suka matamu
Sejak kau tak lagi malu
Aku suka padamu
Tapi kita telat bertemu
Aku ingin menikmati
Setiap percakapan
Setiap basa-basi
Dan sedikit senyuman
Yang lalu-lalang
Sebab jarak tak bisa dilipat
Setelah ini kita akan kembali
Ke tatapan itu lagi
Jauh, mungkin jutaan tahun cahaya
Saling tegur
"Lihat" bisikan dari timur
Merayap, tak terukur
Kau tinggal berbalik
Kembali ke bilik
Saat merasa terusik
Tempat biasa kau berbisik
Atau sekedar melirik
Aku suka matamu
Sejak kau tak lagi malu
Aku suka padamu
Tapi kita telat bertemu
Aku ingin menikmati
Setiap percakapan
Setiap basa-basi
Dan sedikit senyuman
Yang lalu-lalang
Sebab jarak tak bisa dilipat
Setelah ini kita akan kembali
Ke tatapan itu lagi
Jauh, mungkin jutaan tahun cahaya
Senin, 21 Oktober 2019
Dongeng Persatuan
Setelah luluh lantah
Terkotak-kotak, terbagi-bagi
Satu-persatu memilih diam
Kembali ke bawah kolong kasur
Para raja kembali membaur, melebur
Tak peduli berapa banyak yang kabur
Gerombolan fanatik mengumpat
Sembunyi-sembunyi, dalam hati
Di kamar masing-masing
Di ruangan paling sunyi
Pelan-pelan memahami, menyesali
Mengelus dada, mengumpul kembali asa
Di seberang trotoar, simpul buyar
Sibuk menghardik para penyesal
Mencari nikmat dengan mengantar kesal
Ejek-ejekan dan para raja tetap tidak peduli
Mereka telah sampai di kedipan yang ke 98
Pipinya pegal, pura-pura masih berlangsung
Lalu bagaimana nasib penonton?
Tetap saja, cuma kali ini dibarisan VIP
Kursinya empuk, meski agak sedikit mahal
Mustahil diatasi rupiah
Jangan tanya lalu apa?
Kau tau jawabannya adalah darah.
Pada mata yang kian sayup, tubuh yang tak lagi sanggup,
Para raja menceritakan dongeng persatuan
Memaksa kita menikmati pertunjukan.
Terkotak-kotak, terbagi-bagi
Satu-persatu memilih diam
Kembali ke bawah kolong kasur
Para raja kembali membaur, melebur
Tak peduli berapa banyak yang kabur
Gerombolan fanatik mengumpat
Sembunyi-sembunyi, dalam hati
Di kamar masing-masing
Di ruangan paling sunyi
Pelan-pelan memahami, menyesali
Mengelus dada, mengumpul kembali asa
Di seberang trotoar, simpul buyar
Sibuk menghardik para penyesal
Mencari nikmat dengan mengantar kesal
Ejek-ejekan dan para raja tetap tidak peduli
Mereka telah sampai di kedipan yang ke 98
Pipinya pegal, pura-pura masih berlangsung
Lalu bagaimana nasib penonton?
Tetap saja, cuma kali ini dibarisan VIP
Kursinya empuk, meski agak sedikit mahal
Mustahil diatasi rupiah
Jangan tanya lalu apa?
Kau tau jawabannya adalah darah.
Pada mata yang kian sayup, tubuh yang tak lagi sanggup,
Para raja menceritakan dongeng persatuan
Memaksa kita menikmati pertunjukan.
Jumat, 11 Oktober 2019
Menggemaskan
Tuan dewan,
Kami kebingungan
Tumpukan-tumpukan pertanyaan
Tak kunjung menemui jawaban
Tuan dewan,
Kami ketakutan
Rapat disepelehkan
Tugas tak kau hiraukan
Tuan dewan,
Kami kelelahan
Bosan dengan sekedar bacotan
Kami ingin pertanggungjawaban
Tuan dewan,
Rakyat butuh gerombolan pahlawan
Yang tak terbang karena pujian
Tak tumbang karena cacian
Tuan dewan,
Belajarlah mendengar kritikan
Bersikaplah seperti kesatria pilihan
Kami kebingungan
Tumpukan-tumpukan pertanyaan
Tak kunjung menemui jawaban
Tuan dewan,
Kami ketakutan
Rapat disepelehkan
Tugas tak kau hiraukan
Tuan dewan,
Kami kelelahan
Bosan dengan sekedar bacotan
Kami ingin pertanggungjawaban
Tuan dewan,
Rakyat butuh gerombolan pahlawan
Yang tak terbang karena pujian
Tak tumbang karena cacian
Tuan dewan,
Belajarlah mendengar kritikan
Bersikaplah seperti kesatria pilihan
Sabtu, 05 Oktober 2019
Pojok Kamar
Selepas sore yang bingar
Sedih menyamar
Pada sepi kita belajar
Saling merahasiakan kabar
Pada rindu yang barbar
Aku ditampar sadar
Kamu bukan lagi tempat bersandar
Sedih menyamar
Pada sepi kita belajar
Saling merahasiakan kabar
Pada rindu yang barbar
Aku ditampar sadar
Kamu bukan lagi tempat bersandar
Sabtu, 28 September 2019
Mama Demokrisis
Keningnya dikecup. "Saya berangkat. Mau bertugas".
Tangannya dicium. "Saya berangkat. Mau berjuang".
Doanya merayap, mendesak air matanya tumpah. Begitu sesak.
Ia takut selongsong peluru dari khilaf suaminya akan merobek kepala anaknya.
Atau justru amuk gerombolan anaknya akan menyasar bagian suaminya yang tak dilindungi rompi anti peluru.
Telinganya jenuh mendengar panji "demi rakyat".
Tiap hari, berulang kali mengkhawatirkannya.
Siapa yang lebih tabah dari ini?
Perempuan yang tiap detik berjudi.
Mengira-ngira, menerka, menebak dengan jawaban yang sama sakitnya.
Tentang jasad yang akan lebih dulu mengetuk pintu rumahnya.
Tangannya dicium. "Saya berangkat. Mau berjuang".
Doanya merayap, mendesak air matanya tumpah. Begitu sesak.
Ia takut selongsong peluru dari khilaf suaminya akan merobek kepala anaknya.
Atau justru amuk gerombolan anaknya akan menyasar bagian suaminya yang tak dilindungi rompi anti peluru.
Telinganya jenuh mendengar panji "demi rakyat".
Tiap hari, berulang kali mengkhawatirkannya.
Siapa yang lebih tabah dari ini?
Perempuan yang tiap detik berjudi.
Mengira-ngira, menerka, menebak dengan jawaban yang sama sakitnya.
Tentang jasad yang akan lebih dulu mengetuk pintu rumahnya.
Jumat, 27 September 2019
Semata Wayang
Menuju sang Maha Pengasih
Kau kembali
Demi Negeri
Demi nelayan dan petani
Demi kami, demi reformasi yang habis dikorupsi
Aspirasi dan nyali yang harus dibayar mati
Bersama peluru yang ditanam polisi, tidak bisa tidak, jiwamu akan tumbuh membumi
Akan abadi
Randi, kau adalah tragedi.
Kau kembali
Demi Negeri
Demi nelayan dan petani
Demi kami, demi reformasi yang habis dikorupsi
Aspirasi dan nyali yang harus dibayar mati
Bersama peluru yang ditanam polisi, tidak bisa tidak, jiwamu akan tumbuh membumi
Akan abadi
Randi, kau adalah tragedi.
Sabtu, 07 September 2019
Belajar Mengakhiri "Pesta"
Burung gereja masih bermain, ada yang baru belajar terbang. Anak-anak di gang keluyuran dengan gula-gula kaki ditangannya, ada yang bermain sepak bola di tanah lapang, tanpa sepatu, sandal jepit disulap menjadi gawang. Para remaja bermain playstation, mencari kesibukan, berusaha mengalihkan perhatian jiwanya. Ritual menahan lapar, haus, dan hawa nafsu sudah berlangsung berabad-abad. Sebulan penuh dari 12 bulan yang disediakan kalender masehi. Dalam hijriah selalu tepat pada ramadhan. Ritual semacam itu biasanya ditutup dengan pesta berbelanja. Pemerintah ikut mendukung, memberi bonus tambahan gaji, perusahaan swasta diberi instruksi untuk melakukan hal serupa. Beberapa memilih mendapat THR dengan perbuatan kriminal, korbannya tentu pemilik THR yang legal. Begal, mencuri, merampok, menipu, ada yang sampai membunuh. Ya, demi melibatkan diri dalam perayaan "pesta".
Ritual terus berlangsung, ustad kebanjiran job, ceramah tiap ramadhan disebar diberbagai mimbar, tanpa banyak revisi. "jama'ah yang insya Allah di rahmati oleh Allah SWT, jadi kita berpuasa demi merasakan bagaimana susahnya menjadi orang miskin". Ibu tua pemulung sampah lalu mengelus kepala anak perempuannya yang ikut ke masjid bertaraweh, sembari membesarkan hati anaknya, iya berusaha meyakinkan anaknya bahwa manusia yang ada di sekelilingnya sedang bersolidaritas merasakan kemiskinan yang nyaris setiap waktu duduk di pundaknya. Anak perempuan yang putus sekolah itu sebenarnya ragu, kalau ritual semacam itu dilaksanakan demi merasakan kemiskinan yang ia derita, lalu buat apa mereka ikut melaksanakan ritual? Mengapa pada saat bersamaan dia tidak diajak bersolidaritas merasakan hidup yang serba berkecukupan? Sebulan saja.
"Ma, apa orang-orang kaya itu juga makan nasi yang dicampur air garam pada saat berbuka? Memasak mi instan saat sahur, dan membiarkan bayi kecilnya tetap merengek saat susu formulanya habis?" dia berbisik, pada dirinya sendiri. Untung saja anak perempuan itu tak punya gadget canggih. Kau bisa membayangkan perasaannya saat melihat media sosial menggambarkan bagaimana buasnya orang-orang yang mengaku sedang menahan nafsu, saling pamer hidangan berbuka. Demi eksistensi, demi stratifikasi sosial, tak ada cela di atas meja makan yang terbuat dari kayu jepara, 4 sehat 5 sempurna.
Bulan ramadhan kerap kali kehilangan daya revolusionernya, berubah menjadi bulan konsumtif. Ada yang sampai enggan hadir ke lapangan, melaksanakan shalat idul fitri hanya karena malu menggunakan kembali pakaian yang ia beli di ramadhan lalu. Ada yang malah menolak berpuasa karena merasa jika sekedar menahan lapar dan haus, setiap hari, sepanjang tahun ia sudah rasakan. Bulan ramadhan harusnya menjadi ajang belajar menghargai waktu, bersilaturahmi, belajar hidup sederhana, belajar untuk saling mengasihi, belajar hidup rukun dengan semangat toleransi. Lebih jauh, bulan ramadhan harusnya menjadi bulan untuk melatih diri membunuh budaya buruk konsumerisme, dan tempat ujian puasa sesungguhnya berada pada sebelas bulan berikutnya.
17 mei 2019
Ach. Faras Bukhari
Ritual terus berlangsung, ustad kebanjiran job, ceramah tiap ramadhan disebar diberbagai mimbar, tanpa banyak revisi. "jama'ah yang insya Allah di rahmati oleh Allah SWT, jadi kita berpuasa demi merasakan bagaimana susahnya menjadi orang miskin". Ibu tua pemulung sampah lalu mengelus kepala anak perempuannya yang ikut ke masjid bertaraweh, sembari membesarkan hati anaknya, iya berusaha meyakinkan anaknya bahwa manusia yang ada di sekelilingnya sedang bersolidaritas merasakan kemiskinan yang nyaris setiap waktu duduk di pundaknya. Anak perempuan yang putus sekolah itu sebenarnya ragu, kalau ritual semacam itu dilaksanakan demi merasakan kemiskinan yang ia derita, lalu buat apa mereka ikut melaksanakan ritual? Mengapa pada saat bersamaan dia tidak diajak bersolidaritas merasakan hidup yang serba berkecukupan? Sebulan saja.
"Ma, apa orang-orang kaya itu juga makan nasi yang dicampur air garam pada saat berbuka? Memasak mi instan saat sahur, dan membiarkan bayi kecilnya tetap merengek saat susu formulanya habis?" dia berbisik, pada dirinya sendiri. Untung saja anak perempuan itu tak punya gadget canggih. Kau bisa membayangkan perasaannya saat melihat media sosial menggambarkan bagaimana buasnya orang-orang yang mengaku sedang menahan nafsu, saling pamer hidangan berbuka. Demi eksistensi, demi stratifikasi sosial, tak ada cela di atas meja makan yang terbuat dari kayu jepara, 4 sehat 5 sempurna.
Bulan ramadhan kerap kali kehilangan daya revolusionernya, berubah menjadi bulan konsumtif. Ada yang sampai enggan hadir ke lapangan, melaksanakan shalat idul fitri hanya karena malu menggunakan kembali pakaian yang ia beli di ramadhan lalu. Ada yang malah menolak berpuasa karena merasa jika sekedar menahan lapar dan haus, setiap hari, sepanjang tahun ia sudah rasakan. Bulan ramadhan harusnya menjadi ajang belajar menghargai waktu, bersilaturahmi, belajar hidup sederhana, belajar untuk saling mengasihi, belajar hidup rukun dengan semangat toleransi. Lebih jauh, bulan ramadhan harusnya menjadi bulan untuk melatih diri membunuh budaya buruk konsumerisme, dan tempat ujian puasa sesungguhnya berada pada sebelas bulan berikutnya.
17 mei 2019
Ach. Faras Bukhari
Abdul
Terhitung sudah 4 tahun Abdul tak pulang kekampung. Kerinduan pada ibunya kadang dilampiaskan lewat telepon genggamnya. Ia tak tahu berapa kerutan sudah ia biarkan tumbuh di wajah ibunya tanpa pernah ia saksikan langsung. Hatinya sungguh ingin pulang, tapi ia punya tanggung jawab berat menyelesaikan tugas yang menumpuk dari dosennya dikampus. Uang yang dikirimkan dari kampung hanya cukup buat makan ditambah tabungan hasil kerja sambilan yang ia kumpulkan dalam celengan ayam plastik juga tidak cukup membeli tiket pulang. Ia harus menyebrang pulau, ia tak mungkin membebankan itu pada ibunya yang sudah rela mengurangi porsi makan demi tanggungan kuliahnya, ayahnya sudah lama meninggal, waktu itu Abdul masih sedang belajar mengucapkan kata ayah. Dalam setiap harapan kesuksesan anaknya, ibunya menyimpan berjuta rindu untuk memeluknya.
Ibunya menaruh harapan besar pada instansi pendidikan. Ia ingin anaknya belajar bersungguh-sungguh, mendapat pekerjaan layak, pulang, kemudian merubah nasib keluarga dan berguna untuk masyarakat. Kebun peninggalan kakek yang juga tak seberapa luasnya rela dijual. Demi sekolah Abdul. Sedang Abdul penuh dilema, ia sadar bahwa ibunya telah salah menaruh harapan itu pada kampus. Di kelas ia merasa tak ada proses belajar, ia merasa hanya menjadi wadah tempat segala omong kosong ditampung. Kepalanya dipenuhi segala pertanyaan, dan ruang kelas tak mampu menjawab itu semua. Ia tak mungkin menjelaskan itu pada ibunya, ia tak ingin membiarkan kesedihan menyelimuti tubuh ibunya saat terlelap. Itu pula yang membuat Abdul malu untuk pulang. Kuliahnya sebenarnya baik-baik saja, ia tak mengulang satupun mata kuliah, dan itu didapatkan dari hasil "diamnya" didalam kelas. Tapi Abdul merasa harus mendapatkan sesuatu disini, dan selembar kertas ijazah menurutnya tidak sebanding dari apa yang telah dikorbankan ibunya yang hanya bekerja sebagai pemetik coklat di kebun milik tetangga.
Abdul adalah seorang pemuda yang haus ilmu, ia gemar membaca. Apa saja, filsafat, teologi, sains juga sastra, ia juga pecandu diskusi. Sebab buku dan kawan diskusinya pulalah, ia merasa punya beban ilmu pengetahuan. Dan itu terlalu visioner untuk dipahami ibunya dikampung yang sekolah dasar saja tidak tamat. Sungguh ia kadang menyesali telah bertemu buku dan beberapa kawan diskusinya. Abdul sangat ingin membanggakan orang tuanya, tapi selain piala, jabatan bergengsi dan uang yang banyak, orang tuanya sulit menerima itu sebagai tolok ukur kesuksesan. Orang tuanya tak pernah mengenal Tan Malaka, membaca biografi Bob Marley dan Mahatma Ghandi, atau lebih jauh berkenalan dengan kehidupan baginda besar Rasulullah SAW, yang hidup menginspirasi dunia dan mempengaruhi banyak tokoh besar, meski tak bergelimang harta.
Abdul ingin hidup merdeka, menjalani setiap detik dalam hidupnya atas pilihannya sendiri. Tapi ibunya juga harus dibahagiakan, dengan segala pengharapannya. Pikiran itu berkecamuk dikepalanya, sepanjang malam, setiap hari. Sebentar lagi Abdul menyelesaikan kuliahnya, berita itu telah sampai ke telinga ibunya, sayang, berita itu dibalas dengan kabar duka bahwa ibunya sedang sakit keras. Tepat di hari wisudahnya, petir seolah menyambar ubun-ubunnya, ya, ibunya meninggal dunia. Hari itu Abdul benar-benar hancur, ia seperti tak punya persendian lagi, ia benar-benar marah pada dirinya, bahkan pada Tuhannya. Ia melepaskan juba dan toga wisudahnya, air matanya tumpah ditengah pelukan orang tua wisudawan lain yang mengelilinginya.
Ia bergegas mencari pinjaman untuk melihat keriput di wajah ibunya yang terakhir kali. "ibu aku sudah wisudah" dalam hatinya sambil memeluk jenazah ibunya yang sudah kaku. Ia yakin ibunya masih mendengarkan. Tatkala jenazah itu dikebumikan, dihadapan nisan kedua orang tuanya yang bersebelahan, Abdul bersumpah akan menjadikan hari wafat kedua orang tuanya dikenang dunia, lewat biografi yang entah siapa yang akan menuliskannya setelah Abdul memberi sesuatu pada dunia dan menyusul kedua orang tuanya. Berjuanglah, lalu pulang kepangkuan ibumu, Abdul!
Ach. Faras Bukhari
Langganan:
Postingan (Atom)