Setelah luluh lantah
Terkotak-kotak, terbagi-bagi
Satu-persatu memilih diam
Kembali ke bawah kolong kasur
Para raja kembali membaur, melebur
Tak peduli berapa banyak yang kabur
Gerombolan fanatik mengumpat
Sembunyi-sembunyi, dalam hati
Di kamar masing-masing
Di ruangan paling sunyi
Pelan-pelan memahami, menyesali
Mengelus dada, mengumpul kembali asa
Di seberang trotoar, simpul buyar
Sibuk menghardik para penyesal
Mencari nikmat dengan mengantar kesal
Ejek-ejekan dan para raja tetap tidak peduli
Mereka telah sampai di kedipan yang ke 98
Pipinya pegal, pura-pura masih berlangsung
Lalu bagaimana nasib penonton?
Tetap saja, cuma kali ini dibarisan VIP
Kursinya empuk, meski agak sedikit mahal
Mustahil diatasi rupiah
Jangan tanya lalu apa?
Kau tau jawabannya adalah darah.
Pada mata yang kian sayup, tubuh yang tak lagi sanggup,
Para raja menceritakan dongeng persatuan
Memaksa kita menikmati pertunjukan.
Senin, 21 Oktober 2019
Jumat, 11 Oktober 2019
Menggemaskan
Tuan dewan,
Kami kebingungan
Tumpukan-tumpukan pertanyaan
Tak kunjung menemui jawaban
Tuan dewan,
Kami ketakutan
Rapat disepelehkan
Tugas tak kau hiraukan
Tuan dewan,
Kami kelelahan
Bosan dengan sekedar bacotan
Kami ingin pertanggungjawaban
Tuan dewan,
Rakyat butuh gerombolan pahlawan
Yang tak terbang karena pujian
Tak tumbang karena cacian
Tuan dewan,
Belajarlah mendengar kritikan
Bersikaplah seperti kesatria pilihan
Kami kebingungan
Tumpukan-tumpukan pertanyaan
Tak kunjung menemui jawaban
Tuan dewan,
Kami ketakutan
Rapat disepelehkan
Tugas tak kau hiraukan
Tuan dewan,
Kami kelelahan
Bosan dengan sekedar bacotan
Kami ingin pertanggungjawaban
Tuan dewan,
Rakyat butuh gerombolan pahlawan
Yang tak terbang karena pujian
Tak tumbang karena cacian
Tuan dewan,
Belajarlah mendengar kritikan
Bersikaplah seperti kesatria pilihan
Sabtu, 05 Oktober 2019
Pojok Kamar
Selepas sore yang bingar
Sedih menyamar
Pada sepi kita belajar
Saling merahasiakan kabar
Pada rindu yang barbar
Aku ditampar sadar
Kamu bukan lagi tempat bersandar
Sedih menyamar
Pada sepi kita belajar
Saling merahasiakan kabar
Pada rindu yang barbar
Aku ditampar sadar
Kamu bukan lagi tempat bersandar
Langganan:
Postingan (Atom)