Sabtu, 07 September 2019

Abdul


Terhitung sudah 4 tahun Abdul tak pulang kekampung. Kerinduan pada ibunya kadang dilampiaskan lewat telepon genggamnya. Ia tak tahu berapa kerutan sudah ia biarkan tumbuh di wajah ibunya tanpa pernah ia saksikan langsung. Hatinya sungguh ingin pulang, tapi ia punya tanggung jawab berat menyelesaikan tugas yang menumpuk dari dosennya dikampus. Uang yang dikirimkan dari kampung hanya cukup buat makan ditambah tabungan hasil kerja sambilan yang ia kumpulkan dalam celengan ayam plastik juga tidak cukup membeli tiket pulang. Ia harus menyebrang pulau, ia tak mungkin membebankan itu pada ibunya yang sudah rela mengurangi porsi makan demi tanggungan kuliahnya, ayahnya sudah lama meninggal, waktu itu Abdul masih sedang belajar mengucapkan kata ayah. Dalam setiap harapan kesuksesan anaknya, ibunya menyimpan berjuta rindu untuk memeluknya.

Ibunya menaruh harapan besar pada instansi pendidikan. Ia ingin anaknya belajar bersungguh-sungguh, mendapat pekerjaan layak, pulang, kemudian merubah nasib keluarga dan berguna untuk masyarakat. Kebun peninggalan kakek yang juga tak seberapa luasnya rela dijual. Demi sekolah Abdul. Sedang Abdul penuh dilema, ia sadar bahwa ibunya telah salah menaruh harapan itu pada kampus. Di kelas ia merasa tak ada proses belajar, ia merasa hanya menjadi wadah tempat segala omong kosong ditampung. Kepalanya dipenuhi segala pertanyaan, dan ruang kelas tak mampu menjawab itu semua. Ia tak mungkin menjelaskan itu pada ibunya, ia tak ingin membiarkan kesedihan menyelimuti tubuh ibunya saat terlelap. Itu pula yang membuat Abdul malu untuk pulang. Kuliahnya sebenarnya baik-baik saja, ia tak mengulang satupun mata kuliah, dan itu didapatkan dari hasil "diamnya" didalam kelas.  Tapi Abdul merasa harus mendapatkan sesuatu disini, dan selembar kertas ijazah menurutnya tidak sebanding dari apa yang telah dikorbankan ibunya yang hanya bekerja sebagai pemetik coklat di kebun milik tetangga.

Abdul adalah seorang pemuda yang haus ilmu, ia gemar membaca. Apa saja, filsafat, teologi, sains juga sastra, ia juga pecandu diskusi. Sebab buku dan kawan diskusinya pulalah, ia merasa punya beban ilmu pengetahuan. Dan itu terlalu visioner untuk dipahami ibunya dikampung yang sekolah dasar saja tidak tamat. Sungguh ia kadang menyesali telah bertemu buku dan beberapa kawan diskusinya. Abdul sangat ingin membanggakan orang tuanya, tapi selain piala, jabatan bergengsi dan uang yang banyak, orang tuanya sulit menerima itu sebagai tolok ukur kesuksesan. Orang tuanya tak pernah mengenal Tan Malaka, membaca biografi Bob Marley dan Mahatma Ghandi, atau lebih jauh berkenalan dengan kehidupan baginda besar Rasulullah SAW, yang hidup menginspirasi dunia dan mempengaruhi banyak tokoh besar, meski tak bergelimang harta.

Abdul ingin hidup merdeka, menjalani setiap detik dalam hidupnya atas pilihannya sendiri. Tapi ibunya juga harus dibahagiakan, dengan segala pengharapannya. Pikiran itu berkecamuk dikepalanya, sepanjang malam, setiap hari. Sebentar lagi Abdul menyelesaikan kuliahnya, berita itu telah sampai ke telinga ibunya, sayang, berita itu dibalas dengan kabar duka bahwa ibunya sedang sakit keras. Tepat di hari wisudahnya, petir seolah menyambar ubun-ubunnya, ya, ibunya meninggal dunia. Hari itu Abdul benar-benar hancur, ia seperti tak punya persendian lagi, ia benar-benar marah pada dirinya, bahkan pada Tuhannya. Ia melepaskan juba dan toga wisudahnya, air matanya tumpah ditengah pelukan orang tua wisudawan lain yang mengelilinginya.

Ia bergegas mencari pinjaman untuk melihat keriput di wajah ibunya yang terakhir kali. "ibu aku sudah wisudah" dalam hatinya sambil memeluk jenazah ibunya yang sudah kaku. Ia yakin ibunya masih mendengarkan. Tatkala jenazah itu dikebumikan, dihadapan nisan kedua orang tuanya yang bersebelahan, Abdul bersumpah akan menjadikan hari wafat kedua orang tuanya dikenang dunia, lewat biografi yang entah siapa yang akan menuliskannya setelah Abdul memberi sesuatu pada dunia dan menyusul kedua orang tuanya. Berjuanglah, lalu pulang kepangkuan ibumu, Abdul!

Ach. Faras Bukhari






Tidak ada komentar:

Posting Komentar